anda pengunjung ke-

Tampilkan postingan dengan label semua tentang hewan di JEPANG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label semua tentang hewan di JEPANG. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Desember 2011

pikachu ^^

6

Pikachu, Hewan asli Jepang ?


Anda penggemar Pikachu dalam cerita Pokemon, apa
anda mengira itu hanya fiksi ? ternyata tidak.

Ternyata hewan yang bernama Pikachu itu adalah
hewan asli Jepang.
Pikachu ini juga menginspirasikan cerita ini,
mungkin anda baru tahu dan saya pun baru tahu.
Menurut Web Auction hewan ini juga dijual,dan
menurut penjual 20 ekor pikachu sudah mendapatkan
US$ 925 Juta.

Hewannya lucu yah, apalagi kalo bisa mengeluarkan
listrik, pasti keren.

HACHIKO

Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar. Profesor itu setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan kereta api.. Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai stasiun. 

Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali. Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun. Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan. 

Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju. Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga kebanyakan enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat perapian yang hangat. Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar ke kampus. Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat kerja. Dengan jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno berangkat ke stasun Shibuya bersama Hachiko. 

Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan Profesor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari universitas. Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti. Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan Profesor Ueno dan anjingnya yang setia itu, Hachiko. Karena memang sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan bakar batu bara itu. Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua orang sahabat karib, Profesor naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi. Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya profesor dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan,
” saya akan menunggu tuan kembali.”
“Anjing manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi sebelum tuan kamu ini pulang!” teriak pegawai kereta setengah berkelakar.
Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak keras,”guukh!”
Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.
Di kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang kebetulah lewat koridor kampus. 

Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung segera memapahnya ke klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan siang itu kambuh. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali Profesor. Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. 

Profesor Ueno meninggal dunia. Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan kembali ke rumah Profesor di Shibuya.
Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah. Seharusnya Profesor Ueno sudah kembali, pikirnya. Sambil mondar-mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya. Beberapa orang yang ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan anjing itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahannya. 

Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali ada kereta datang, mengharap tuannya ada di antara para penumpang yang datang. Tapi selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno tidak pernah datang.
Bahkan hingga esoknya, dua hari kemu dian , dan berhari-hari berikutnya dia tidak pernah datang.
Namun Hachiko tetap menunggu dan menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali. Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.
Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko dan penasaran kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya. Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan pernah kembali lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus.
Tetapi anjing itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap menunggu dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus kering karena jarang makan.
Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang setia terus menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali.
Mereka yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar tidak kedinginan. Selama 9 tahun lebih, dia muncul di station setiap harinya pada pukul 3 sore, saat dimana dia biasa menunggu kepulangan tuannya. 

Namun hari-hari itu adalah saat dirinya tersiksa karena tuannya tidak kunjung tiba. Dan di suatu pagi, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemu dian suasana menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing itu sudah menjadi mayat.
Hachiko sudah mati.
Kesetiaannya kepada sang tuannya pun terbawa sampai mati. Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke stasiun Shibuya. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya.
Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang justru langka terjadi pada manusia.

Rabu, 07 Desember 2011

Hewan yang Membawa Keberuntungan

Walaupun bangsa Jepang terkenal dengan bangsa yang modern. Tetapi nampaknya masyarakat Jepang tidak begitu saja meninggalkan berbagai kepercayaan yang berbau mitos. Banyak dari mereka yang masih percaya dengan jimat atau benda-benda lain yang dianggap membawa keberuntungan. Dalam hal ini saya akan ceritakan beberapa hewan yang oleh masyarakat Jepang dianggap dapat membawa keberuntungan.

1. Kodok
Sebenarnya saya salah satu orang yang sangat benci kodok. Saya kalau bertemu kodok pasti langsung lari tanpa pikir panjang hehehe.

Namun Bagi orang Jepang, justru kodok memiliki arti yang khusus, atau bahkan istimewa.
Karakter lucu kodok yang kita sering dengar adalah. Keroro Gunso atau Kero Keropi. Dalam bahasa Jepang, 'kodok' disebut 'kaeru'. Nah, kata 'kaeru' ini juga dapat berarti 'kembali'.

Orang Jepang percaya bahwa kodok merupakan hewan pembawa keberuntungan. Selalu membawa (kembali) keberuntungan kepada pemiliknya. Juga bisa bermakna membawa keselamatan dalam perjalanan, membawa kembali barang-barang (jika hilang), 'membawa kembali' uang yang telah kita habiskan.

2. Kucing


Yang dimaksud kucing di sini mungkin lebih dikhususkan pada sebuah benda/patung berbentuk kucing yang di Jepang disebut "Maneki Neko". Sosok seekor kucing yang duduk tegak dengan satu kaki depannya terangkat bak mengajak orang mendekat.

3. Tanuki


Hewan yang satu ini juga sering dipajang di depan kedai atau restoran. Umumnya patung ini dipasang di depan kedai ramen atau kedai minum. Bentuknya khas, selalu memakai topi jerami, dengan botol sake menggantung di pinggangnya, serta memegang bon tagihan di tangannya. Ukurannya bisa beragam, dari yang kecil hingga yang tingginya sekitar 1 meter. 

Fungsinya mungkin hampir mirip dengan 'tugas' manekineko — kucing yang selalu berpose melambaikan kaki depan kirinya (atau kanan). Jika manekineko punya makna untuk mengundang datangnya pembeli (baca: uang), maka patung yang satu ini seolah mengajak orang yang lewat di depan kedai untuk mampir dan menikmati ramen atau sekedar minum sake.
Dalam dunia nyata, tanuki sebenarnya ada. Ia sering dikira sebagai badger atau racoon. Padahal tanuki adalah sejenis anjing yang dapat tumbuh hingga 60 cm panjangnya, dengan ciri khas bulu hitam di bawah matanya. Tanuki hanya hidup di Jepang, Siberia, dan Manchuria. Salah satu film animasi yang mengangkat tanuki jadi karakter utama adalah Pom Poko.

Cari Blog Ini